peta jalan kasar: JALUR tengah MUDIK (2)

info BALIK 2015:

INFO JALUR WANGON-BANDUNG

 

TEMPO.COJakarta – Puncak arus balik diprediksi terjadi pada hari ini, Selasa, 21 Juli 2015. Tentunya Anda tidak ingin terjebak dalam kemacetan di sejumlah titik.

Tempo sempat mencoba beberapa jalur alternatif untuk menghindari titik-titik kepadatan kendaraan saat arus balik. Berikut ini tipnya:

1. Tol Cipali
Sebaiknya Anda keluar di gerbang tol Kalijati di kilometer 98. Kemudian belok kiri ke arah Subang (Sukamandi). Selanjutnya, ambil jalur Pantura.

2. Pemalang-Brebes
Dari arah Pekalongan, setelah Jembatan Comal, sebaiknya Anda belok kiri ke arah Ampel Gading. Setelah sampai di Pemalang Selatan arahkan kendaraan ke Moga-Guci-Slawi, lalu bablas ke Ketanggungan dan Pejagan. Ruas jalan tersebut lancar dan kondisi jalannya bagus.

3. Hindari Purwokerto-Bumiayu-Prupuk
Dari arah Buntu ke Purbalingga, sebaiknya Anda mencari jalan ke Pemalang. Begitu sampai di tikungan Belik, belok kiri. Rutenya melewati Purwosari-Guci-Slawi-Ketanggungan-Pejagan. Kondisi lalu lintas di sini terbilang lancar dan jalannya mulus.

4. Tol Pejagan
Jika lalu lintas di tol Pejagan macet, dari arah Ketanggungan, sebaiknya Anda mengambil jalan menuju Ciledug sebelum Pejagan. Dari situ Anda akan keluar di dekat Tol Palimanan-Kanci. Dari situ, Cirebon sudah dekat. Atau mau masuk tol Kanci, bisa langsung ke Cikopo-Palimanan.

DEVY ERNIS

Banyumas detik – Memasuki H-4 Lebaran di mana puncak arus mudik diperkirakan sampai hari ini, Satlantas Polres Banyumas menyarankan agar para pemudik dapat memanfaatkan jalur Selatan ataupun jalur Tengah melewati Purbalingga menuju Jakarta tanpa harus melewati Ajibarang-Bumiayu-Brebes.

“Dengan situasi yang ada sakarang, arus mudik puncaknya sampai hari ini, bagi pengguna jalan kiranya berkenan menggunakan jalur Selatan melewati Wangon- Lumbir- Dayluhur- Bandung- Jakarta,” kata Kasatlantas Polres Banyumas, AKP Ihram Kustarto, Selasa (21/7/2015).

Bahkan lanjut dia, jika memungkinkan bagi pemudik dari arah Kebumen yang hendak menuju Jakarta bisa mengambil jalur tengah melintasi Purbalingga tembus Pantura. Namun untuk melintasi jalur tersebut, pemudik harus berhati-hati karena terdapat tanjakan dan turunan yang terjal.

Untuk melintasi jalur tersebut dari arah Kebumen bisa melalui simpang empat Buntu ambil kanan arah Banyumas – Purbalingga, setibanya di simpang tiga Sokaraja dapat mengambil arah Purbalingga-Bobotsari-Pemalang.

“Kalau memungkinkan kendaraan dari arah Kebumen bisa ambil jalur tengah dan bisa melewati Purbalingga-Belik sampai Pemalang lalu masuk jalur pantura,” ujarnya.

Keputusan mengambil jalur alternatif tersebut dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Kabag Ops Korlantas terkait pengalihan-pengalihan arus lalu lintas untuk menghindari penumpukan kendaraan di jalur Ajibarang-Bumiayu-Prupuk-Pejagan di mana di jalur tersebut terdapat banyak perlintasan kereta yang salah satunya menjadi sumber kemacetan.
(arb/dra)

PintuTolCipali

peta tol cikopo palimanan 2015junpeta tol cikopo palimanan 2015entrance

Jakarta detik – Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Tol Cipali) akan menjadi perlintasan utama bagi pemudik mobil lantaran bisa mempersingkat waktu daripada menempuh jalan di jalur Pantai Utara Jawa (Pantura). Tol sepanjang 116.75 km itu memang tengah disiapkan sebagai jalur mudik 2015.

Dirangkum detikcom pada Sabtu (11/7/2015), untuk menuju ke Tol Cipali dari arah Jakarta menuju ke Jawa Tengah, pemudik dapat masuk dari Tol Dalam Kota menuju ke arah Tol Cikampek. Setelah Gerbang Tol Cikampek di KM 73 yang merupakan pintu keluar terakhir, pemudik akan berhadapan dengan jalan lurus beraspal.

Kemudian jalan itu akan bersambung ke jalan beton hingga bertemu dengan Gerbang Tol Cikopo di KM 77. Ini merupakan pintu masuk utama untuk menikmati mulusnya Tol Cipali.

Ada beberapa peringatan biasa yang terpasang di ruas tol sebelum masuk ke Gerbang Tol Cikopo. Sementara itu, untuk pintu tolnya sendiri ada 6 buah.

Namun sepertinya pihak pengelola sudah mengantisipasi kepadatan di pintu tol dengan membuka pintu tol cadangan di sisi kiri pintu masuk. Terlihat ada 5 pintu tol yang tengah disiapkan apabila nanti terdapat kepadatan saat puncak arus mudik.

Kebanyakan pemudik yang pertama kali melewati tol tersebut jangan terlalu khawatir. Selama tetap menjaga konsentrasi dan mengontrol kecepatan, tak ada yang perlu dirisaukan ketika melewati tol yang baru saja diresmikan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Konstruksi jalan beton yang mulus akan menyambut pemudik dengan trek lurus yang mendominasi. Bagi pemudik yang merasa kelelahan dari Tol Cikampek dapat berhenti terlebih dahulu di rest area pertama yaitu di KM 86.

Perjalanan akan berlanjut melewati konstruksi jalan berupa beton lagi hingga pemudik akan menemui simpang susun pertama yang merupakan pintu Gerbang Tol Kalijati di KM 98. Pintu tol itu berada di wilayah Kabupaten Subang dan akan mengarahkan pemudik keluar menuju ke Kalijati, Purwadadi dan Sukamandi.

Konstruksi jalan yang berupa beton akan berganti dengan mulusnya aspal hotmix di KM 110. Jalan aspal itu akan kembali berganti dengan jalur beton di KM 160.

Tol Cipali sendiri memiliki 2 jalur jalan yaitu satu mengarah dari Jakarta ke Cirebon dan satu jalur lagi sebaliknya. Masing-masing jalur terdiri dari 2 lajur selebar kurang lebih 5-7 meter.

Dua jalur jalan itu dipisahkan dengan parit sedalam kurang lebih 30-60 cm. Di beberapa lokasi memang Tol Cipali terlihat sepi dan membosankan karena belum banyak rambu-rambu jalan atau peringatan yang terpasang.

(dhn/dhn)

Jakarta, Otomania – Setelah membahas perjalanan melintasi Tol Cipali di malam hari, giliran membeberkan rute balik dari Palimanan menuju Cikopo di waktu siang. Meski tak lagi mengandalkan pancahayaan seperti berjalan di malam, tapi berkendara pada siang hari pun tetap harus waspada terhadap beberapa hal penting, karena cukup fatal bila Anda hiraukan.

BBM dan Logistik

Saat Otomania melintas dari Palimanan menuju Cikopo, beberapa lokasi rest area yang dilalui masih dalam tahap pembanggunan dan belum beroperasi. Hal terpenting yang wajib Anda perhatikan adalah ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan. Jika dirasa kurang, sebaiknya sebelum masuk tol mencari SPBU terdekat untuk mengisi ulang.

Perhatikan meski konsumsi BBM relatif lebih irit jika berkendara di tol karena kecepatan stabil, kondisi sepanjang tol cenderung gersang. Belum banyak hijau pepohonan menghiasi sisi jalan. Artinya, jika kondisi cuaca cerah, hawa panas akan menghadang, sehingga penggunaan pendingin ruangan (Air Conditioner/AC) jadi andalan. Besaran hembusan angin AC juga berpengaruh terhadap konsumsi BBM.

StanlyBerkendara siang hari di Cipali, perhatikan Ban dan logistik

Selain itu, urusan ketersediaan logistik, seperti makanan ringan atau minuman juga perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang tidak berpuasa. Belum beroperasinya rest area yang ada di sepanjang Palimanan-Cikopo, maka jangan harap Anda bisa menemui mini mart atau warung penjaja makanan atau minuman ringan. Perlengkapi diri Anda dengan logistik yang cukup sebelum masuk tol.

Ban

Hal lain yang patut diperhatikan selama melintasi Tol Cipali di waktu siang, adalah kondisi ban. Terik matahari akan membuat suhu aspal jadi panas, sehingga gesekan yang dialami ban jadi lebih berat. Tekanan angin pada ban yang kurang atau berlebih justru bisa membahayakan perjalanan Anda. Di sepanjang perjalanan, kami juga sempat melihat banyak serpihan-serpihan ban, membuktikan kalau pernah terjadi kecelakaan terkait kondisi ban.
Kacamata Hitam

Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB, ketika Otomania melintasi tol terpanjang di Indonesia ini. Terik matahari ternyata cukup menguras tenaga ketika berkendara. Kondisi mata sesekali harus mengerut karena menyilaukan, sehingga Anda bisa mudah lelah dan kurang fokus di balik kemudi.

Salah satu solusi yang bisa membantu dalam kondisi ini, adalah dengan memanfaatkan penggunaan kacamata hitam. Teriknya matahari bahkan beberapa kali menciptakan efek fatamorgana di ujung jalan, memaksa pengemudi jadi lebih waspada.

Ritme

Kondisi aspal yang masih baru dan mulus kerap membuat pengemudi terdorong untuk memacu kendaraan jadi lebih cepat. Apalagi, Tol Cipali didominasi dengan jalur-jalur lurus yang panjang. Hindari keinginan ini!

Tetap jaga ritme laju kendaraan Anda sesuai batas kecepatan yang berlaku di tol, 60-100 kpj. Pastikan jarak aman dengan kendaraan di depan, minimal dua detik, sebagai batas kompensasi pengereman jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Paling penting, hindari bahu jalan dan menyusul kendaraan lain dari sisi kiri, karena berakibat fatal.

Ruas jalan Tol Cikopo-Palimanan, Subang, Jawa Barat, Kamis (18/6/2015). Tol Cikopo-Palimanan yang merupakan ruas jalan tol terpanjang di Indonesia yakni 116,75 kilometer tersebut diharapkan dapat mengurangi beban jalur Pantai Utara (pantura) Jawa hingga 60 persen.

Satu catatan penting, terdapat beberapa titik sambungan jalan antara lapisan aspal dan beton. Rongga antara kedua lapisan ini cukup rapat dan aman dilalui, selama kecepatan kendaraan tetap stabil.

Sepanjang perjalanan balik dari Palimanan menuju Cikopo, terdapat beberapa jembatan yang dilalui. Selain itu, akses jalan ini dikelilingi oleh areal persawahan yang rata. Kondisi geografis ini, membuat angin yang berhembus di daerah ini cukup kencang, sehingga fokus dan pengendalian kendaraan wajib diperhatikan lebih seksama.

TEMPO.CO, Jakarta – BUMD PT BIJB serius menjajaki sejumlah bank dan lembaga donor dalam pembangunan terminal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.

Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas mengatakan selain menggandeng pihak swasta asing dalam pembangunan terminal BIJB, pihaknya juga sudah melakukan penjajakan dengan pihak perbankan.

Menurutnya, ada empat bank yang sudah didekati untuk mengucurkan dana. “Pertama BJB sebagai bank tuan rumah, Bank Mandiri. Dua lagi tengah dalam proses,” katanya, Senin, 22 Juni 2015.

Selain empat bank, pihaknya juga diminta Islamic Development Bank (IDB) untuk mempresentasikan rencana pembangunan bandara yang ditargetkan khusus umroh ini.

Dengan IDB, kemungkinan pendanaan yang diberikan akan dalam bentuk club deal investment anggota IDB. “Bukan lembaga IDB secara keseluruhan,” katanya.

Pihaknya menjajaki sindikasi perbankan karena bersama Angkasa Pura (AP) II sudah memetakan rencana pembangunan bandara yang akan dilakukan dalam beberapa tahap.

Tahap I A yang ditargetkan selesai 2017 dikerjakan akan menyedot dana Rp2,5 triliun, tahap I B membutuhkan dana Rp1,7 triliun. “Kita targetkan kebutuhan dana 30% dari joint venture , dan 70% dari pinjaman,” katanya.

Kebutuhan pinjaman yang mencapai sekitar Rp1,2 triliun menurutnya akan digunakan untuk membangun keseluruhan tahap I yang mencapai luas 118.000 meter persegi.

Untuk tahap I A pihaknya menargetkan membangun 83.000 meter persegi tanpa PIR dengan kapasitas 5 juta penumpang per tahun. “Angka ini sudah memperhitungkan limpahan penumpang dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dan pengembangan lanjutan bandara.,” katanya.

Virda memastikan rencana groundbreaking terminal pada Agustus atau September 2015 tidak akan menjadi masalah selama nota kesepakatan pembentukan JV dengan AP II segera terbentuk dan pendanaan terpenuhi.

Sementara itu, ucapnya, untuk pihak swasta asing seperti perusahaan Cina bisa masuk dari awal JV atau masuk saat pembangunan tahap I mulai berjalan.

 Komposisi Saham Jadi 50:50

Saat ini draft pembentukan JV sudah ada di meja Direktur Utama PT AP II. Awalnya, pembentukan JV bisa lahir pada Juni ini sesuai target yang diberikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

Terkesan lambannya pembentukan JV, menurut Virda, tidak diakibatkan ganjalan tertentu. “Bolanya ada di AP II, kita berharap mudah-mudahan secepatnya,” ujarnya.

Dalam pembentukan JV rencana saham sesuai arahan gubernur dipastikan kembali berubah. Jika sebelumnya AP II menguasai mayoritas saham dengan komposisi 51:49, dalam rapat terbaru komposisi menjadi 50:50.

“Awalnya karena ekspektasi Pak Gubernur kalau lahan yang dibutuhkan akan dibebaskan perusahaan joint venture, AP II mayoritas. Sekarang kami usulkan lahan dibebaskan oleh Pemprov Jabar maka saham jadi 50:50,” paparnya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan perubahan komposisi saham dalam JV yang akan mengelola bandara tersebut tidak menyalahi kesepakatan awal pihaknya dengan AP II.

 BISNIS

Liputan6.com, Purwarkarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menetapkan tarif tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang memiliki panjang 116,75 kilometer (km) melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Besaran tarif yang telah ditentukan untuk melintasi tol terpanjang di Indonesia tersebut sebesar Rp 96 ribu untuk golongan I. “‎Besarantarif tol sebesar Rp 96 ribu yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri PU Pera,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeldjono saat peresmian Tol Cipali, Cikopo, Purwakarta, Sabtu (13/6/2015).

Dengan tarif yang telah ditetapkan maka lebih mahal dari tarif awal yang ada di Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebesar Rp 750 per KM atau sebesar Rp 87 ribu. Sebelumnya Basuki mengisyaratkan harga tersebut akan lebih tinggi dari apa yang tertuang dalam kontrak awal tersebut mengingat banyaknya pertimbangan dalam konstruksinya.
‎‎

Jalan Tol Cikopo – Palimanan merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Jawa dan akan menghubungkan Jalan Tol Jakarta – Cikampek dan Jalan Tol Palimanan – Kanci.

“Dengan beroperasinya Jalan Tol Cikopo – Palimanan akan mengurangi jarak tempuh jalur Pantura sepanjang ±40 km dan mengurangi waktu tempuh selama kurang lebih 1,5 jam,” tutur Basuki.

Hal ini diharapkan dapat menyelesaikan sebagian besar permasalahan pra sarana jaringan jalan khususnya di wilayah Pantura Jawa Barat dan juga mendukung mobilitas di wilayah barat Pulau Jawa dan mendukung perkembangan potensi ekonomi Jawa Barat.

Jalan tol Cikopo – Palimanan dibiayai dengan Skema Private Public Partnership (PPP)/Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jaringan jalan serta mendorong pengembangan kawasan pendukung di wilayah Jawa Barat.‎  (Yas/Ahm)

JAKARTA – Mudik Lebaran 2015 kali ini sangat jauh berbeda dengan mudik Lebarandi tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya di sektor infrastruktur jalan.

Biasanya, pemerintah menitik beratkan fokus jalan di sepanjang jalur Pantura (pantai utara), kali ini pemerintah fokus menyambungkan berbagai seksi tol yang masuk dalam rangkaian Tol Trans Jawa.

Untuk mudik 2015 kali ini, setidaknya pemerintah telah berhasil menyambungkan Tol Trans Jawa mulai dari Merak sampai Brebes Timur. Hal itu juga memberikan manfaat dan alternatif bagi para pemudik.

Awal mulai perubahan mudik 2015 terjadi karena paket pengerjaan ruas Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang sudah hampir rampung, yang sampai saat ini hanya tinggal pemasangan marka atau rambu lalu lintas, serta penyelesaian pembangunan rest area atau tempat peristirahatan.

Tol yang memiliki panjang 116 kilometer (km) ini pun sangat dihandalkan oleh pemerintah untuk mengalihkan beban arus mudik pada jalur pantura. Hal tersebut pun berhasil lantaran target pembangunan Tol Cipali yang dijadwalkan selesai pada Agustus beberapa tahun ke depan dimajukan rampung sebelum Lebaran 2015.

“Merak sampai Brebes sudah tol to tol,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat Berkunjung ke MNC Media, Jakarta.

Setelah Cipali, ruas tol yang selanjutnya berperan dalam arus mudik 2015 adalah, rute Kanci-Pejagan. Rute tersebut jauh lebih dahulu selesai pengerjaannya dibandingkan dengan Cipali.

Setelah Kanci-Pejagan, pemerintah menyiapkan pula ruas Pejagan-Pemalang yang kira-kira memiliki panjang 20 km. Uniknya, ruas Pejagan-Pemalang milik Waskita Karya group ini hanya agregat saja atau fisik jalannya itu satu lapis sebelum aspal atau hanya krikil yang dipadatkan dan disemprot dengan emulsion aspal.

Kondisi ruas Pejagan-Pemalang sendiri sampai saat ini masih hamparan tanah dan beberapa jembatan hanya baru sampai tahap pembangunan pondasi. Meski begitu, Basuki mengungkapkan, ruas tol Trans Jawa itu sudah aman untuk digunakan saat arus mudik Lebaran 2015.

“Cikopo-Brebes Timur bisa kita lalui ini untuk mudik ini,” ujarnya.

Untuk arus mudik Lebaran 2015 di Pulau Sumatera, Basuki menuturkan, jalur yang paling siap adalah Jalan Lintas Timur (Jalintim). “Ritual mudik dari Aceh sampai Lampung dengan Jalintim (jalan lintas Timur) yang paling siap, kalau Barat agak berat, yang tengah belum fungsional penuh, yang paling siap Jalintim,” kata Basuki.

Untuk Pulau Kalimanan, Basuki menyebutkan sudah siap semua, lantaran banyak beberapa ruas jalan yang sudah berhasil tersambung.

“Lintas Kalimantan Selatan sudah funsional dari pangkalan bun sudah tersambung, tinggal jembatan Tayan, tapi Agustus selesai, Sulawesi lebih cukup lagi,” tutupnya. http://economy.okezone.com/read/2015/06/10/320/1163125/rute-tol-merak-hingga-brebes-siap-sambut-mudik-2015
Sumber : OKEZONE.COM

Jakarta, – Tempat peristirahatan atau rest area menjadi tempat yang dibutuhkan pengemudi untuk beristirahat dan melepas lelah dari perjalanan panjang. Sehingga keberadaan rest area menjadi prioritas dan kini telah disiapkan di Tol terpanjang Cikampek-Palimanan (Cikapali).

Bersama dengan Kementerian PU, detikcom berkesempatan meninjau lokasi pengerjaan tol Cikapali yang infonya telah 99 persen selesai. Sementara untuk rest area, tol Cikapali menyiapkan 8 lokasi bagi pengemudi yang hendak beristirahat.

Dari total 8 lokasi rest area, 4 rest area tipe A dan 4 rest area tipe B. Yang membedakan diantara keduanya yakni hanya adanya SPBU di tipe A.

“Rest area tipe A ada SPBU nya. Hanya itu yang membedakan. Dari total panjang 116 Km, diperkirakan jarak setiap lokasi rest area sekitar 25 Km,” ujar Menteri PU dan Pera, Basuki Hadi Muljono saat meninjau pengerjaan tol Cikapali, Selasa (2/6/2015).

Selain menyediakan SPBU, fasilitas rest area juga menyediakan toilet, mushola, food court, dan beberapa kursi serta meja untuk tempat beristirahat.

Kondisi pengerjaan rest area untuk saat ini masih belum selesai 100 persen. Masih terdapat ratusan pekerja yang hingga saat ini tengah menyelesaikan pengerjaan pembuatan SPBU, kantin serta beberapa lokasi untuk peristirahatan.

Wadirut PT Lintas Marga Sejahtera, Hudaya Arrianto menjelaskan untuk rest area tipe A di Subang dalam waktu seminggu SPBU telah siap dioperasikan. Namun, berberda halnya untuk rest area tipe A di Majalengka yang pengerjaannya masih lambat dan belum diketahui kapan dapat terselesaikan.

“Ini SPBU di Subang ada di KM 122 dan berikutnya SPBU di Majalengka ada di KM 184. Jadi sekitar 60 km jedanya. Ada sepasang rest area, diantara jarak rest area tipe A ada rest area tipe B,” jelasnya.

Posted in peta ke daerah tujuan wisata | Leave a comment

peta jalan kasar: MUDIK lewat JALUR TENGAH

SERIUS MAEN SAHAM BERLABA

INFO TOL CIPALI 2015

detik: Jakarta – Musim mudik Lebaran tinggal menghitung hari. Tak lama lagi, pergerakan jutaan orang kembali ke kampung akan terjadi. Kendala yang selalu dihadapi dan berulang soal kemacetan.

Namun untuk Lebaran tahun ini ada yang baru dalam urusan jalur mudik. Tak lain bisa digunakannya jalur Tol Cikampek-Palimanan (Cikapali). Setelah tol ini resmi beroperasi, masyarakat dari Jakarta bisa tanpa henti melaju lewat tol hingga Brebes, Jawa Tengah.

Kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk biaya tol?

Dari Jakarta, perjalanan bisa dimulai dari Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR). Setelah itu keluar di pintu tol Pejagan di Brebes, Jawa tengah. Total tarif tol yang harus dirogoh kocek pengguna Rp 138.000.

Total tarif itu menggunakan asumsi tarif tol terakhir yang berlaku saat ini. Kita coba simulasikan perjalanan dimulai dari daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, dengan mobil golongan satu.

Pertama-tama, mobil memasuki jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/JORR). Tarif tol ini Rp 8.500.

Setelah itu, memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek bayar lagi Rp 13.500. Sejauh ini total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 22.000.

Selesai melewati Cikampek, masuk ke gerbang tol Cikampek-Palimanan (Cikapali), tol dengan ruas terpanjang di Indonesia ini mematok tarif Rp 87.500. Jadi setelah 116,75 km dilewati, bayar Rp 87.500.

Selanjutnya masuk ke tol Palimanan-Kanci milik PT Jasa Marga Tbk. Di sini Anda bayar tol lagi Rp 4.500 di pintu keluar. Sudah Rp 114.000 dikeluarkan untuk bayar tol.

Tidak butuh waktu lama untuk melewati tol ini. Selanjutnya Anda masuk ke Tol Kanci-Pejagan yang dulu milik Grup Bakrie. Tarif tol yang sekarang dikuasai Grup MNC ini sebesar Rp 24.000.

Setelah keluar di pintu tol Pejagan, Brebes, total biaya yang sudah dikeluarkan untuk bayar tol sebesar Rp 138.000. Demikian biaya total yang dikeluarkan.

Anda siap menghadapi mudik?

peta TOL CIKAMPEK – PALIMANAN (yang diusulkan, tapi JELANG DIRESMIKAN pada AKHIR JUNI 2015):
tol cikampek palimanan 2015besar

peta jalur alternatif MUDIK 2014:

 

peta jalur alternatif mudik 2014… sebagai evaluasi TRANS JAVA 2014 yang gw lakukan sbb:

H-2: gw masuk tol Cikampek (sekira jam 6.30) lalu exit tol Jatiluhur, ke kiri masuk Kota Purwakarta menuju Pasar Rebo lalu ke kiri di Pasar tersebut mengarah ke Wanayasa-Segalaherang (gw terjebak macet sekira 5 jam), lalu ke luar ke arah Jalan Cagak menuju ke Kota Sumedang (sekira jam 1900 masuk hotel)

H-1: berangkat pagi sekira jam 0800 menuju Palimanan lewat Jatiwangi (sekira 5 jam) masuk tol Palimanan-Kanci-Pejagan, lalu sore berhenti di Pekalongan

H: berangkat pagi sekira jam 0800 (lancar jaya lewat Jembatan Comal :) ) menuju Salatiga lewat tol lingkar luar kota Semarang-Bawen, semua jalur lancar jaya, kecuali karena terjadi sebuah kecelakaan di jalur Bawen-Salatiga, maka gw beralih lewat Magelang n pinggir Yogya, n Klaten (banyak candi n ada resto Ayam Bakar Kalasan) ke Solo, sore masuk hotel.

H+2: berangkat pagi, gw balik dari Solo lewat Boyolali ke taman wisata Kopeng dan kota Salatiga (makan Kupat Tahu Blabak), lalu ngebut ke Pusat Grosir Batik Sentono Pekalongan (sekira jam 1530) dan makan Soto Tauto Bang Dul (sampai dengan jam 1800), lalu lewat jalur alternatif buatan Polri sekira 2 jam lolos ke kota Pemalang (tidak melewati jembatan Comal) terus ke tol lingkar luar Cirebon ke Palimanan, terus melalui lingkar luar Indramayu dst s/d Tol Karawang Timur lewat jalur pemotor di Cikampek (walau pun gw nyetir mobil seh), lancar jaya (tapi gw banyak bobo di beberapa sbpu seh)

Ini 11 Kawasan Macet di Jabar dan Jateng
JUM’AT, 02 AGUSTUS 2013 | 06:54 WIB
Ini 11 Kawasan Macet di Jabar dan JatengTEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Perhubungan menyatakan secara umum, semua jalur yang disiapkan untuk arus mudik dan balik sudah dapat berfungsi. “Yang masih rawan macet itu jalur utara, Cirebon – Tegal,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Alimoeso, melalui pesan pendek, Jumat, 2 Agustus 2013.Ia pun menyebut jalur selatan Jawa, yaitu di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah rawan macet. Menurut Suroyo ada dua hal penyebab kemacetan, yaitu pasar tumpah dan persimpangan, baik dengan kereta maupun bukan.Kementerian Perhubungan menyebut setidaknya ada 12 titik kemacetan yang harus diwaspadai di sepanjang jalur mudik di pulau Jawa. “Salah satunya adalah Simpang Jomin,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan.Sementara itu, sebelas titik kemacetan lainnya berada di:1. Pertemuan jalur alternatif untuk motor di Ciasem
2. Paliaman
3. Perlintasan sebidang kereta api (KA) di pintu keluar tol Pejagan
4. Cikampek – Simpang Cikopo
5. Ruas jalan Simpang Gadog – Puncak
6. Ruas jalan Rancaekek
7. Gentong – Limbangan
8. Ciregol, Bumiayu
9. Perlintasan Sumpiuh
10. Perlintasan Karanganyar
11. UngaranKementerian Perhubungan menyatakan akan ada pagar betis sepanjang Karawang – Cirebon selama masa mudik. “Sebanyak 9.000 aparat kepolisian disiapkan untuk pagar betis,” kata Direktur Keselamatan Transportasi Darat Kementerian Perhubungan, Hotma Simanjuntak.Ia menjelaskan, satu petugas kepolisian akan ditempatkan di setiap jalan sepanjang 1.500 meter jalur tersebut. Hotma menyebut ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian petugas yang berjaga di jalur mudik. Pertama, adanya “bottle neck”.Menurut Hotma, “bottle neck” biasa terjadi di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), rumah makan, dan masjid. Kedua, jalur Cikampek – Simpang Jomin – Simpang Mutiara. Ia mengungkapkan, jalur segitiga emas itu rawan penumpukan arus kendaraan.”Kalau di situ macet, nanti kendaraan akan dialihkan ke Sadang,” ujarnya. Jika Sadang pun mengalami kemacetan, petugas akan mengarahkan kendaraan menuju Cileunyi. Ketiga, Hotma menuturkan, pemudik dengan motor yang melalui jalur Ciasem akan menyebabkan kemacetan.Lintas Karawang – Krasak – Cikalong akan dioperasikan sebagai jalur alternatif untuk pemudik yang menggunakan motor. Pada tahun lalu, kata Hotma, penyebab utama kemacetan ketika mudik adalah sikap pengemudi yang tidak bersabar dan tidak disiplin.Hotma pun menyebut dari tahun ke tahun ada cerita yang sama tentang mudik. “Sama ceritanya, Simpang Jomin selalu macet,” ucapnya.MARIA YUNIAR

Liputan6.com, Bandung – Pengadaan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi, Sumedang, Dawuan) sudah memasuki tahap pembebasan lahan. Hal ini bertujuan agar proses pembangunan tol sendiri berlangsung dengan baik.

Direktur Utama PT Jasa Sarana, Soko Sandi Buwono mengaku, sebagai BUMD Provinsi Jawa Barat yang mengurusi pendanaan pengadaan Jalan Tol Cisumdawu, telah melakukan pembayaran uang ganti rugi (UGR) kepada pemilik tanah di Desa Citimun.

“Pada Senin (23 Juni) PT Jasa Sarana merealisasikan pembayaran uang ganti rugi (UGR) atas Desa Citimun yang telah melalui seluruh tahapan pengadaan tanah hingga tercapai musyawarah,” seperti keterangan tertulisnya, Selasa (24/6/2014).

Selain itu pada Agustus 2014 nanti, 1 desa lagi akan masuk tahap pengadaan. Sedangkan untuk penyelesaian sampai dengan Seksi VI, akan diselesaikan hingga pertengahan tahun 2015.

Dalam kesempatan itu Soko menuturkan Jalan Tol Cisumdawu ini akan terintegrasi dengan jalan tol yang sudah ada dan dapat dirasakan manfaatnya segera oleh masyarakat Bandung dan sekitarnya.

“Oleh karenanya, kami mengusulkan untuk diberi kesempatan menyelesaikan pendanaan pengadaan tanah Seksi 1, yakni dari Cileunyi hingga Tanjungsari, kami akan menyelesaikannya hingga Desember 2014,” pungkasnya. (Okan Firdaus/Nrm)

(Nurmayanti)
– See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/2067884/pembebasan-lahan-tol-cisumdawu-masuk-tahap-pembayaran#sthash.0dk8DJQd.dpuf
Tol Cisumdawu Selesai 2014, Waktu Tempuh Bandung-Sumedang Hanya 15 Menit
Zulfi Suhendra – detikfinance
Kamis, 29/11/2012 13:21 WIB

Sumedang – Proyek tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu) tahap 1 mulai dibangun hari ini, diharapkan keseluruhannya selesai 2014. Jika total ruas tol ini telah rampung, diperkirakan waktu tempuh dari Cileunyi (Bandung) menuju Sumedang hanya 15 menit.

Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) saat acara groundbreaking tol Cisumdawu di Sumedang, Kamis (29/11/12).

“(Jika sudah rampung) Bandung (Cileunyi) ke Sumedang hanya 15 menit Insya Allah, biasanya macet di Jatinagor dan Cadas Pangeran,” ungkap Aher.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto menargetkan proses pembangunan tol Cisumdawu tahap 1 yang menghubungkan Cileunyi-Rancakalong ini akan memakan waktu hingga 2 tahun.

“Direncanakan seluruhnya selesai pada tahun 2014,” ungkap Djokir.

Pembangunan ruas tol ini memakan biaya sebesar Rp 1,022 triliun yang berasal dari dana pinjaman dari pemerintah China dan dana APBN. “Dananya loan China 90%, dan APBN murni 10%.

Proses groundbreaking ini adalah untuk pembangunan tahap 1 dengan panjang 6,3 km dari keseluruhan panjang tol sekitar 60,28 km. Total dana yang dikeluarkan untuk pembangunan tahap 1 ini diperkirakan mencapai Rp 1,022 triliun. Pembangunan ini dilakukan oleh 3 kontraktor yakni PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya, dan Shanghai Construction Group dari China.

Seperti diketahui, ruas tol Cisumdawu akan dibangun sepanjang 60,28 kilometer dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 5 triliun. Rencana konstruksi akan dibagi dalam enam seksi yaitu seksi satu CileunyinTanjungsari sepanjang 9,80 Km, seksi dua Tanjungsari Sumedang sepanjang 17,51 Km, Sumedang-Cimalaka 3,73 Km, Cimalaka-Legok 6,96 Km, Legok-Ujungjaya 16,35 Km, dan seksi enam Ujungjaya-Kertajati sepanjang 4 Km.

(zul/hen)
Kamis, 01 November 2012 | 10:48 WIB
Loan Agreement Tol dengan Cina Diteken Pekan Depan

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, mengatakan pekan depan pemerintah akan menandatangani loan agreement dengan pemerintah Cina.

“Pekan depan, kami menandatangani loan agreement untuk pembangunan Jalan Tol Medan-Kuala Namu-Tebing Tinggi dan Tol Cisumdawu,” kata Djoko, usai penutupan Rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu malam, 31 Oktober 2012.

Djoko menjelaskan, pinjaman luar negeri untuk pembangunan kedua ruas tol tersebut mencapai triliunan rupiah. Untuk Tol Cisumdawu, pinjaman diberikan sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan untuk ruas Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi sebesar US$ 137 juta.

“Ini kabar baik, karena dana pinjaman tersebut sudah dianggarkan dalam pagu anggaran Kementerian Pekerjaan Umum 2012. Sehingga penyerapan anggaran Kementerian juga ikut meningkat,” kata Djoko.

Loan agreement sendiri sudah berulang kali diundur oleh pemilik dana lantaran ada perdebatan internal antara pemerintah Cina dan pihak Bank Exim, Cina, sebagai pemberi pinjaman. Karena itu, ia dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto harus sering menghubungi pihak Cina agar mereka segera menandatangani loan agreement.

Dengan penandatanganan perjanjian itu, proses konstruksi kedua ruas tol dapat segera dilakukan. Djoko memperkirakan sekitar Desember kedua ruas tol itu dapat dilakukan ground breaking dan selesai dua tahun kemudian atau sekitar 2015.

Adapun Tol Cisumdawu merupakan ruas tol yang akan menghubungkan Bandung dengan Bandara Internasional Kertajati dan Tol Cikapali. Tol sepanjang 60 kilometer ini diharapkan akan mempersingkat waktu tempuh Bandung-Sumedang menjadi 15 menit, sekaligus mengantisipasi beban trafik jalan Cadas Pangeran.

Tol tersebut terbagi atas enam seksi dan dua kontrak pembangunan. “Kontrak pertama sudah dilelang,” kata Djoko. Penandatangan kontrak tersebut dilakukan pada 2 Desember 2011 dan sekaligus mengawali kerja sama pemerintah Indonesia dengan Kontraktor Shanghai Contruction Group.

Sedangkan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi merupakan ruas tol yang telah masuk dalam Public Private Partnership 2011. “Saat ini pembebasan lahannya sudah 55 persen dan siap dikonstruksi,” kata Djoko.

Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi merupakan salah satu akses jalan menuju Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Akses jalan lain menuju bandara tersebut adalah jalan non-tol yang saat ini masih dalam proses konstruksi dan siap dioperasikan tahun depan.

“Wakil Presiden sudah menginstruksikan bahwa Bandara Kualanamu harus diresmikan pertengahan tahun depan,” kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, dalam acara yang sama. Oleh sebab itu, Kementerian Pekerjaan Umum juga mengebut pengerjaan jalan tol dan non-tol menuju Bandara Kualanamu.

RAFIKA AULIA
Dibiayai China, Tol Cisumdawu Sumedang Segera Dibangun
Panjang jalan tol di kawasan Sumedang itu mencapai 58,35 kilometer.
Kamis, 1 November 2012, 12:31 Arinto Tri Wibowo, Alfin Tofler

VIVAnews – Pemerintah segera merealisasikan pembangunan jalan tol Cisumdawu di Jawa Barat. Rencana pemasangan tiang pancang pembangunan jalan tol itu akan dipastikan setelah memperoleh pendanaan dari China.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto, mengatakan, bank ekspor impor China akan memberikan pinjaman senilai Rp1 triliun untuk pendanaan proyek tol itu.

“Mudah-mudahan pekan depan kami akan segera tanda tangani,” ujar Djoko ketika ditemui di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Kamis, 1 November 2012.

Menurut Djoko, selama ini, pencairan pinjaman tersebut bermasalah, karena banyak pembahasan dan koordinasi antara pemerintah China dan Exim Bank of China.

Sepekan setelah penandatanganan perjanjian tersebut, dia menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum akan langsung melakukan peletakan batu pertama di jalan tol sepanjang 58,35 kilometer itu.

Sementara itu, pembebasan lahan di ruas jalan tol Cisumdawu, Djoko memperkirakan, sudah mencapai lebih dari 55 persen. Kementerian menargetkan, proses pemasangan tiang pancang jalan tol itu akan memakan waktu penyelesaian dua tahun anggaran.

Pembiayaan oleh bank China itu, dia menjelaskan, akan digunakan untuk pembangunan paket pertama. Sementara itu, untuk pembangunan paket kedua, menurut Djoko, baru akan digelar lelang setelah proses desain selesai.

Tol Cisumdawu itu dibagi menjadi 6 seksi, yakni Cileunyi–Tanjungsari (9,80 km), Tanjungsari–Sumedang (17,51 km), Sumedang-Cimalaka (3,73 km), Cimalaka-Legok (6,96 km), Legok-Ujungjaya (16,35 km), Ujungjaya-Kertajati (4,00 km)

Tol Cisumdawu itu dibagi menjadi 6 seksi, yakni Cileunyi–Tanjungsari (9,80 km), Tanjungsari–Sumedang (17,51 km), Sumedang-Cimalaka (3,73 km), Cimalaka-Legok (6,96 km), Legok-Ujungjaya (16,35 km), Ujungjaya-Kertajati (4,00 km).

Rabu, 15 Agustus 2012 | 10:29 WIB
Situs-situs yang Tayangkan CCTV Arus Mudik

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah dan sebuah perusahaan swasta berlomba-lomba memasang kamera kamera pengawas alias closed-circuit television (CCTV) untuk memantau arus mudik. Ada ratusan kamera yang dipasang di berbagai titik penting jalur mudik. Di Pantura, kamera itu antara lain dipasang di Susukan, Winong, Tegalgubug, Tegalkarang, Palimanan, Plumbon, Plered, Kedawung, Gebang, dan Losari.

“Ada beberapa CCTV yang kami pasang di sepanjang jalur Pantura Kabupaten Cirebon,” kata Kepala Kepolisian Resor Cirebon, Ajun Komisaris Besar Asep Edi Suheri, kemarin. ,

Kamera CCTV juga dipasang di ruas tol Palimanan-Kanci (Palikanci). “Ada 17 CCTV yang kami pasang di sepanjang jalur ini,” kata Kepala Jasa Marga Cabang Tol Palikanci, Dadang Sumaryana.

Di jalur Nagreg, Polres Bandung memasang enam unit kamera pengawas. Kamera itu, menurut Kepala Polres Ajun Komisaris Besar Sandi Nugroho, antara lain dipasang di pintu gerbang tol Cileunyi, Batalion 330, Pamucatan, Ciaro, Jalan Cagak, dan Lingkar Nagreg.

Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, kamera pengawas dipasang di 15 titik. “Pengoperasian CCTV itu terintegrasi dengan RTMC Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah DIY,” kata Kepala Humas Polda DIY Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti.

Di Surakarta, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Surakarta mengoperasikan kamera CCTV canggih bernama Intelligent Traffic System (ITS). Kepala Dinas Perhubungan, Yosca Herman Soedrajad, mengatakan kamera ini mampu mengatur nyala lampu pengatur lalu lintas sesuai dengan kepadatan kendaraan.

“Semakin panjang antrean kendaraan, nyala lampu hijau makin lama,” kata dia, Senin lalu. Kamera itu dipasang di persimpangan rawan macet, seperti persimpangan Sudirman, Manahan, Coyudan, Dawung, Panggung, dan Kerten.

Di Purwokerto, kamera dipasang antara lain di Terminal Purwokerto; perlintasan kereta api Sumpiuh, Banyumas; dan pertigaan Ajibarang, Banyumas. “Purwokerto menjadi simpul penting lalu lintas di Jawa,” kata Kepala Dinas Perhubungan Banyumas Abdullah Muhammad.

Di Jawa Timur, Polda setempat memasang kamera di 184 titik, termasuk di titik-titik rawan kecelakaan.

Untuk memantaunya Anda bisa mengunjungi link berikut:
departemen perhubungan BANTU ANTISIPASI PERJALANAN ANDA
Kamera CCTV versi Departemen Perhubungan

LEWAT MANA neh …
Daftar CCTV jalur mudik versi Lewatmana.com:

01. Cikopo Cikampek — Jalur Pantura
02. Jomin Pantura — Jalur Pantura
03. Sukasari Pamanukan — Jalur Pantura
04. Mundusari Pamanukan — Jalur Pantura
05. Kertasemaya — Jalur Pantura
06. Brebes Pantura — Jalur Pantura
07. Ketanggungan Brebes — Jalur Tengah
08. Tomo Raya Sumedang — Jalur Selatan
09. Cipacing Raya — Jalur Selatan
10. Limbangan Nagrek — Jalur Selatan

IVANSYAH | SIGIT ZULMUNIR | PITO AGUSTIN RUDIANA | DINI MAWUNTYAS | IKA NINGTYAS | UKKY PRIMARTANTYO | ARIS ANDRIANTO

Tips Mudik Lebaran 1 Syawal 1430H Mobil Pribadi Bandung – Malang lewat Jalur Tengah Jawa
Posted on 15 September 2009 by richocean

peta kasar jalan jakarta-tol cikampek-tol cipularang-purwakarta-cimalaka/sumedang-kadipaten-majalengka





peta kasar jalan majalengka-cikijing-ciamis-banjar


peta kasar jalan ciamis-wangon-banyumas-banjarnegara-wonosobo-dieng-temanggung

wangon kota 2015

peta kasar jalan temanggung-salatiga-surakarta/solo-yogya



peta kasar jalan salatiga surakarta ngawi jombang batu malang n balik ke grobogan-demak-semarang

g







Ban meledak, Rem blong, Inilah yang Harus Anda Lakukan!
Aris F. Harvenda | Jumat, 10 Agustus 2012 | 15:29 WIB

Jakarta, KompasOtomotif – Banyak hal tak terduga bisa terjadi selama melakukan perjalanan mudik. Berikut cara mengatasinya, bila mengalaminya, seperti yang ditututkan oleh Alvin Bahar, pembalap nasional dan juga kerap menjadi instruktur pada kursus safety driving.

1. Ban Meledak
Pertama, jangan panik! Pegang setir lebih kuat, pertahankan arah mobil tetap lurus. Jangan langsung melakukan perlambatan atau mengeremsecara mendadak, misalnya membebaskan pedal gas dan langsung menginjak rem. Rasakan dahulu sumber goyangan terbesar berasa dari mana (depan/belakang) untuk mengetahui ban yang pecah.

Jika yang pecah depan, langkah yang harus dilakukan harus ekstra hati-hati. Kurangi kecepatan dengan membebasakan pedal gas secara perlahan dan bertahap. Tujuannya, agar perpindahan bobot tidak terjadi secara ekstrem ke depan. Selanjutnya, aktifkan rem parkir secara bertahap untuk membantu mengurangi kecepatan. “Paling tidak, bila kecepatan 40 kpj, mobil baru dipinggirkan,” beber Alvin.

Bila yang pecah basn belakang, untuk memperlambat laju mobil bisa dilakukan lebih cepat dengan langsung melepas pedal gas dan melakukan pengereman. Jangan lupa memberi tanda sein ketika hendak berpindah jalur.

2. Rem Blong
Kondisi ini biasanya terjadi karena beberapa hal, antara lain yang kerap terjad, sirkuit minyak rem rem bocor, angin palsu (sirkuit rem ada udara karena terjadi pemuaian) dan suhuminyak meninggi.

Antisipasi pertama, kocok rem paling tidak 3 kali. Dibantu pula dengan mengaktifkan rem parkir hingga 50 persen. Jika hal tersebut tidak menyebabkan laju berkurang, langkah selanjutnya turunkan gigi ke posisi terendah secara berurutan.

3. Melewati Banjir
Jika terpaksa harus melintasi banjir, pastikan mobil Anda bisa lewat dengan aman. Perhatikan jika yang melintas serupa dengan mobil Anda. Jika yakin bisa lewat, jaga putaran mesin agak tinggi, di atas 2.000 rpm pada gigi rendah. Jangan melaju terlalu cepat. Setelah berhasil lewat, agar rem cepat kering, tekan pedal rem berulang-ulang beberapa saat sembari menjalankan mobil pada kecepatan rendah.

Dua puluh tips mudik ke Jawa naik mobil pribadi libur lebaran 1 Syawal 1430 H, berdasarkan pengalaman saya PP Bandung – Jawa 6 kali membawa mobil sendiri tanpa tidur non-stop. Seingat saya 3x saya bawa sedan Honda, 1 kali bawa Kijang, dan 2 kali bawa Zebra, dari masih bujang sampai punya istri 1 dan anak 2.

Pada awalnya saya bawa sedan Honda, sedih di jalan karena umumnya mudik pakai Kijang dan colt. Mobil berbadan besar, kalo sudah macet, lewat bahu jalan, yang jalannya jelek, lubang gede, tenang-tenang saja. Akhirnya saya bisa naik Kijang dan Zebra, rasanya seperti mudik karena sudah sama dengan mobil-mobil mudik yang lain. Sayang tahun ini saya tidak bisa mudik.

Jalur yang ditempuh :
Bandung – Sumedang – Majalengka – Cirebon (via Tol Kanci) – Brebes – Tegal – Bumiayu – Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo – Temanggung – Ambarawa – Salatiga – Boyolali – Solo – Sragen – Ngawi – Madiun – Nagnjuk – Jombang – Mokokerto – Mojosari – Gempol – Purwosari – Malang.

Saya pernah potong lewat Tawangmangu ternyata tanjakannya sesuai peta, tinggi banget, akhirnya tak luat, balik lagi ke Madiun. Saya pernah lewat Kediri – Pujon, utk menghindari tol Lapindo Sidoarjo, ternyata pusing, gunung muter-muter lebih serem dibanding Cadas Pangeran, Sumedang.

Dua puluh tips ini berdasarkan pengalaman pribadi saya agar bisa mudik selamat dan lancar :

PERSIAPAN :
1. Tentukan hari pergi dan pulang mudik sesuai kemampuan dan kondisi
Jika mudik 2-4 hari sebelum hari Idul Fitri dan pulang 2-4 hari sesudah hari Idul Fitri, dijamin jalanan macet banget. Mudik 1 hari dan kembali 1 hari sesudah Idul Fitri sepi banget di jalan.
2. Tentukan jam berangkat
Jika anda biasa terkena sinar lampu mobil maka lebih baik berangkat malam, apalagi ngirit AC. Sebaiknya anda menguasai medan malam yang bisa sepi dan kurang dukungan logistik. Suasana boring banget.
Jika anda ingin melihat indahnya pemandangan selama perjalanan dan kurang tahan sinar lampu, berangkatlah siang hari, dengan catatan AC mobil bagus atau siap meleleh jika AC masalah.
3. Bawa mobil ke bengkel sekitar 1 minggu sebelum hari keberangkatan
Antrian bengkel masih sepi dan montir-montir masih penuh perhatian. Kalo kurang dari 5 hari, bengkel penuh banget dan montir-montir sudah capek lembur, kurang fokus, mau mudik juga.
Yang perlu dilakukan :
– Tune up (kalo perlu ganti busi, saringan udara, saringan bensin, air, aki, air radiator, ganti oli mesin + perseneleng + gardan), siap-siap macet + non-stop
– Cek rem (buka ban), siap-siap jalan menurun + pengereman mendadak
– Cek kampas kopling, siap-siap macet + nanjak
– Cek AC, siap-siap panas macet
– Cek karet wiper + lampu jarak dekat + jauh + sign, siap-siap hujan + malam
– Beli bola lampu cadangan + sekring + oli cadangan, siap-siap oli rembes
– Siapkan ban cadangan, angin penuh. Kembang ban jangan tipis
– Segitiga parkir, perangkat bongkar-bongkar secukupnya, dongkrak, kunci roda
Saya siapkan dana sekitar 1jt ke bengkel agar tidak perlu ke bengkel dadakan (palsu) di pinggir jalan dalam perjalanan.
4. Perhatikan para penumpang mobil
Jika cuma sendiri lebih sederhana. Jika bawa wanita, lebih butuh persiapan. Jika bawa anak-anak kecil dan bayi, butuh persiapan super extra. Pastikan penumpang mobil berangkat dalam kondisi sehat. Jangan memaksakan jika sakit terutama bayi dan anak-anak, anda bisa tidak jadi liburan tapi bisa nginep di rumah sakit di luar kota.
5. Bawa makanan kering + kue + air putih + susu + vitamin + obat secukupnya
Khusus anak-anak, saya bawa kasur lipatnya dan juga bantal kesayangannya. Hal ini sangat serius karena anak tidak bisa tidur di mobil, apalagi setelah sampai ke tempat tujuan. Bawa mainan kesayangan dan bahan-bahan bacaan karena akan sangat membosankan di perjalanan.
6. Bawa baju dan sejenisnya. Simpan di mobil yang tidak merangsang orang untuk mengambil.
Bawa uang tunai secukupnya (sekitar 1jt) untuk jaga-jaga terutama kalau mobil bermasalah dan kesulitan ATM di tengah jalan.
Jangan lupa bawa oleh-oleh yang awet. Sediakan tempat di mobil untuk bawa oleh-oleh balik karena biasanya diberi oleh-oleh dan menolak oleh-oleh merupakan hal yang kurang baik.
7. Siapkan peta, pelajari peta, jalan-jalan alternatif, cari info-info terutama jika anda jarang melewati rute itu
Bawa senter yg cukup, untuk baca peta saat malam maupun pemeriksaan mobil di malam hari. Jika mobil tidak memungkinkan antri dan menanjak, haram hukumnya melalui jalur itu meskipun lebih dekat, lebih baik sedikit memutar tapi pasti sampai.
8. Bawa kaset + CD + film karena di perjalanan sinyal radio AM apalagi FM kadang-kadang tidak ada sama sekali, untuk teman penumpang + sopir agar tetap terjaga. Jangan lupa bawa HP. Pengalaman saya lewat semua jalur mudik, sinyal TELKOMSEL tak kenal mati, suara tetap jernih bisa terus dipantau dari Malang sampai di mana. Ini bukan promosi Telkomsel, ini fakta lho yang saya pakai selama mudik 6 kali itu. Kalau tak punya charger di mobil, bisa charge di masjid-pom bensin, restoran bahkan di sekitar Tegal ada sewa charge HP Rp 1000. Siapkan uang receh untuk berbagai keperluan.
PERJALANAN:
9. Mulai perjalanan dengan tenang dan membaca doa. Siapkan STNK + SIM + KTP.
10. Boleh ngebut di jalan sepi namun tetap hati-hati karena jika macet, anda tidak sampai-sampai.
Boleh menyelip truk, tanki, kontainer, truk gandeng, bis namun tetap hati-hati sesuai kemampuan karena jika tidak, anda akan ikut konvoi lambat dan tidak sampai-sampai. Pengalaman saya menyelip bis, 2x bis memepet saya hingga pindah ke bahu jalan jalur yang berlawanan, untung masih hidup. Hati-hati di turunan dan tikungan di jalur yang anda kurang kenal, apalagi tanjakan merayap, kampas kopling ancaman utama.
11. Usahakan mengisi bensin tetap penuh terutama jika akan melewati jalur alternatif (apalagi malam hari) karena sulitnya pom bensin.
12. Istirahat secukupnya di pom bensin maupun saat makan dan sholat
Periksa kondisi mobil saat beristirahat, ban, dan air radiator. Jika ban terlalu panas, kemungkinan ada masalah dengan sistem rem. Jika mobil terlalu panas, kemungkinan ada masalah dengan radiator. Segera mampir ke bengkel dadakan di pinggir jalan. Hati-hati memilih bengkel dadakan.
13. Jika terpaksa mengemudi sambil flu / batuk, jangan minum obat flu / batuk yang bisa membuat ngantuk
14. Cara yang mudah untuk tidak tersesat adalah mengikuti bis-bis besar yang bertuliskan kota terdekat yang akan dilewati, ikuti jalan utama provinsi yg biasanya besar-besar, hotmix, dicat putih di tengah jalan.
15. Jika anda terpaksa lewat jalur alternatif, usahakan jangan memilih malam hari karena sepi, jalan kurang bagus, sedikit rambu, sedikit pom bensin, sedikit rumah penduduk, sedikit warung, apalagi jalur alternatif yg baru dibangun. Saya pernah lewat, sepi dan ngeri, hanya berdua dengan adik perempuan saya. Kapok.
16. Sesampai di tujuan, anda sebagai pengemudi jangan terlalu lelah, demikian juga rombongan
Tim harus tetap dalam kondisi baik saat kembali apalagi yang bawa mobil. Saya pernah berangkat 1 hari sebelum Idul Fitri, kembali malam hari setelah sholat Idul Fitri. Sempat main-main di Malang, sorenya badan mulai anget-anget tetap memaksakan pulang, akhirnya sampai Jakarta saya langsung sakit cacar. Kemungkinan kelelahan, daya tahan tubuh turun, dan ketularan cacar di luaran. Sehingga rencana lebaran selanjutnya berantakan.
17. Segera periksa mobil sesampai di tempat akhir kampung halaman agar jika ditemukan kerusakan yang serius bisa segera dibawa ke bengkel. Apalagi bengkel lagi susah-susahnya. Moga-moga jika sebelumnya sudah ke bengkel maka tidak perlu ke bengkel lagi. Namun kadang-kadang dalam perjalanan dapat terjadi yg tak terduga.
18. Jangan lupa belanja dan bawa oleh-oleh yg awet dan bisa menggembirakan orang-orang yang dikasihi di tempat asal. Sediakan tempat yg cukup di mobil sejak awal keberangkatan.
19. Lakukan kembali langkah-langkah yang sama seperti saat berangkat
Saat berangkat, jika menemui beberapa hal yang kurang baik agar dicatat sehingga bisa diperbaiki, dipersiapkan lebih baik saat kembali.
20. Kembali ke kota asal, berdoa sebelum berangkat
Jangan lupa foto dulu donk. :)

Semoga rekan-rekan yang mau mudik masih sempat baca. Yang sudah lebih mahir, moga-moga bisa menambahkan info-nya. Yang mudik tahun depan, moga-moga bisa juga bermanfaat.

Peta Jalur Alternatif Mudik Lebaran
Iman Herdiana – Okezone
Sabtu, 20 Agustus 2011 02:35 wib
0 0Email0
detail berita
Ilustrasi

BANDUNG – Arus mudik di Jawa Barat diprediksi akan mengalami kemacetan. Seperti diketahui, Jabar memiliki tiga jalur utama yakni jalur Pantai Utara (Pantura), jalur tengah, dan jalur selatan. Untuk mengurangi kemacetan, pemudik bermotor maupun mobil di tiga jalur ini akan dialihkan ke sejumlah jalur alternatif.

Kapolda Jabar Irjen Pol Putut Eko Bayuseno mengungkapkan, pemudik yang berasal dari arah Jakarta menuju Bandung via puncak bisa dilahkan melalui jalan alternatif yang melewati jalur Cibubur- Jonggol, Cianjur, hingga sampai di Jalan Raya Padalarang, Bandung.

Bagi pemudik dari arah Jakarta yang hendak melalui jalur Utara, kemungkinan akan terjebak kepadatan di daerah Jomin. Maka para pemudik di jalur ini akan dialihkan ke jalur alternatif Cikopo, Sadang, Subang dan Cijelag.

Sedangkan untuk jalur tengah, pemudik bisa melalui dua jalur alternatif, yakni jalur Sukamandi-Kalijati via Sadang dan jalur Pemanukan-Subang.

Untuk jalur Selatan yakni jalan di Bandung-Garut yang melewati Cileunyi, para pemudik bisa melalui jalur alternatif Jalan Parakan Muncang. Jalur alternatif lainnya untuk jalur selatan ini, pemudik bisa menggunakan Banjar-Malangbong- Limbangan-Cibatu-Kadungora-Cijapati dan Cicalengka.

“Bagi pemudik di jalur Selatan yang hendak mengarah ke Timur dapat menggunakan jalur alternatif Malangbong-Sumedang via Wado,” papar Kapolda.

Menurutnya, semua jalur alternatif yang ada bisa dilalui para pemudik bermotor ataupun mobil. Dia mengakui, tidak semua jalur layik karena ada beberapa yang memiliki kerawanan bencana ataupun rawan kecelakaan mengingat kondisi jalan yang tajam serta kurang bagus.

Untuk itu, dia mengimbau supaya pemudik yang menggunakan jalur alternatif bisa ekstra hati-hati termasuk mentaati peraturan lalu lintas.

“Sebaiknya saat mengendara janganlah ugal-ugalan yang dapat membahayakan diri sendiri serta merugikan pengendara lain. Sekali lagi saya tekankan dan mengimbau agar selamat menuju tujuan, pemudik harus mentaati peraturan lalu lintas,” ujarnya.
(abe)
Menelusuri Jalur Alternatif

Bila jalur-jalur utama yang tersedia benar-benar macet, dan sepanjang musim mudik lebaran hampir sering terjadi, ada baiknya pemudik memilih jalur alternatif Wanayasa-Jalan Cagak. Namun sekali lagi dengan catatan, “bila jalur utama macet total”. Seputar pintu tol Cikampek, diperkirakan menjadi daerah tersibuk seperti tradisi bila musim mudik. Pada saat itu, seluruh kendaraan dari Jakarta yang melewati tol Cikampek, baik tujuan Cirebon, Jateng ataupun Jabar seperti Bandung, Subang, Sumedang dan daerah-daerah lainnya, seluruhnya bermuara di situ.

Sebagai titik simpul dari sekian kota atau daerah tujuan, kemacetan menjadi satu kerawanan yang sangat terasa. Bagaimana tidak, berbagai jenis kendaraan umum seperti bus maupun pribadi, yang lewat tol Cikampek akan tertumpuk di daerah tersebut.

Pertigaan Cikampek merupakan titik tolak semua jalur yang keluar dari pintu tol. Ada dua jalur utama yang resultannya di pertigaan tadi, yakni arah utara jalur utama Pantura ke Cirebon dan Jateng. Ke selatan ke arah Padalarang-Bandung atau Subang.

Jalur utama terakhir terpecah dua di pertigaan Sadang. Pemudik bisa lurus jika ingin melewati jalur utama Cikampek-Purwakarta-Padalarang-Bandung, atau belok ke selatan di pertigaan Sadang menuju Subang melewati pabrik sebuah perusahaan besar Texmaco milik konglomerat Marimutu Sinivasan.

Dua jalur utama yang bertolak dari pintu tol dan pertigaan Cikampek, seperti dituturkan pegawai DLLAJR di Terminal Sadang, langganan macet. Terutama pada hari-hari makin mendekati Idhul Fitri mulai H-3 sampai H+3.

Kemacetan total sering terjadi pula di jalur utama Pertigaan Sadang menuju Subang. Lalu apa yang harus dilakukan pemudik bila di jalur itu mengalami macet total. Untuk pemudik jurusan Bandung, bisa lurus ke Purwakarta-Padalarang-Bandung. Namun bila jurusan Subang, tak ada jalan lain. Tinggal pilih, ingin berlama-lama terjebak macet yang melelahkan dan menjengkelkan, atau mencari jalur alternatif.

Jika skenario buruk (macet total ) terjadi, disarankan pemudik berlega hati melalui satu-satunya jalur alternatif yang tersedia. Tidak ada lain kecuali Wanayasa-Jalan Cagak-Subang dengan panjang mencapai 50 hingga 60 km. Jalur alternatif dan AMP kontroversi portal BIC.

Menuju jalur alternatif Wanayasa-Jalan Cagak-Subang dari pertigaan Sadang, sekitar 10 km ke arah kota Purwakarta. Memang agak melelahkan, tapi apa boleh buat dibandingkan kalau terjebak diantara deretan kendaraan dalam satu kemacetan total.

Jalur alternatif satu-satunya ini, bisa ditempuh dari pintu tol Dawuhan, 10 km sebelum pintu tol Cikampek. Tapi biasanya dilakukan pemudik yang berpengalaman, khususnya pemudik yang memang sudah hafal daerah tersebut.

Dari pintu tol Dawuhan, bisa lewat kawasan industri dan kompleks perumahan. Hanya saja, untuk mudik kali ini, jalur khusus kendaraan pribadi sedikit terhambat karena terhalang portal di pintu keluar perumahan BIC yang menurut Kasatlantas Polres Purwakarta, Lettu Pol. Drs Sopyan tengah diprotes jajaran Polwil Purwakarta maupun Pemda.

Pemasangan portal di BIC diprotes. Dan sudah kirim surat agar portal yang baru dipasang dibongkar kembali. Soalnya menghambat kelancaran arus lebaran.

Jalur BIC cukup strategis untuk mengantisipasi menumpuknya kendaraan bila terjadi kemacetan di pertigaan Cikampek maupun Sadang. Kendaraan tujuan
Bandung bisa langsung lewat tol Dawuhan tanpa harus lewat pertigaan Cikampek.

Bagi kendaraan pemudik yang akan menyusuri jalur alternatif Wanayasa-Jalan Cagak, mereka bisa menyusuri kompleks BIC lalu langsung ke arah Purwakarta tanpa melewati pertigaan Cikampek maupun Sadang yang langganan macet.

Jalur itu, selama ini dijadikan pembuang bila pertigaan Cikampek maupun Sadang macet. Bila ada portal, apalagi palang besinya yang sengaja dipasang pas badan mobil, pasti ada kelambatan. Kan harus pelan bila melewati palang besi.

Cukup beralasan bila jajaran Polwil Purwakarta geram dengan pemasangan portal yang dipasang belum lama ini. Dari pengamatan “PR”, kendaraan pribadi yang melalui palang besi mau tidak mau harus berhenti dan melaju pelan-pelan. Bila arus padat, berapa waktu terbuang hanya untuk melalui palang besi.

Wanayasa-Jalan Cagak-Subang Jalur alternatif ini boleh jadi pengobat satu-satunya bila terjadi kemacetan total di jalur-jalur utama pertigaan Sadang. Menyusuri jalur alternatif itu, walau mungkin lebih lengang, namun kehati-hatian sebagai prinsip utama pengemudi, harus tetap dipegang.

Sepanjang 50 sampai 60 km jalur alternatif, badan jalan lebih sempit dibanding jalur-jalur utama. Sekitar 7 sampai 8 m dengan jarak tempuh sekitar 1,5 sampai 2 jam dengan kecepatan normal antara 60 sampai 70 km per jam.

Jalur ini memang lebih layak bila dilalui kendaraan pribadi. Untuk kendaraan umum, apalagi jenis bus-bus berbadan besar, tentunya kurang pas karena selain badan jalan sempit, lokasi yang dilalui juga penuh tikungan dan naik turun. Ada baiknya, bus-bus tidak memaksakan melalui jalur ini.

Sebagaimana umumnya sebuah jalan yang menyusuri pegunungan, sepanjang Wanayasa-Jalan Cagak akan banyak ditemui belokan tajam, tanjakan atau turunan curam. Kondisi jalan sebaian besar sudah diaspal dengan kualitas relatif.

Badan jalan bergelombang juga akan banyak dijumpai di beberapa lokasi seperti antara km 7 sampai 25 lepas pasar Wanayasa. Daerah rawan macet, bila kendaraan berjalan tertib nyaris tidak ditemui, terkecuali di Pasar Wanayasa yang merupakan pusat kegiatan belanja sekaligus terminal angkot.

Ada baiknya tidak menjadikan ruas jalan ini sebagai ajang kebut-kebutan atau saling salip. Kondisinya tidak memungkinkan dan malah bisa celaka karena badan jalan sempit dan kondisinya tak semulus jalur-jalur utama.

Sepanjang jalur itu memang hampir tidak ditemui tempat beristirahat. Yang ditemui hanya perkampungan penduduk biasa atau perbukitan, ladang, sawah ataupun hutan jati dan perkebunan teh khususnya memasuki daerah Kabupaten Subang.

Sejauh ini tidak ada rambu lalu-lintas petunjuk jalan, kkhususnya di wilayah Purwakarta. Tidak ada penjelasan menyangkut ketiadaan rambu-rambu tadi, namun seperti dituturkan Kasatlantas Polres Purwakarta, Lettu Pol. Sopyan, jalur Wanayasa-Jalan Cagak memang tidak dipersiapkan khusus untuk arus mudik lebaran.

Jika pengemudi merasa lelah, hanya ada satu lokasi yang layak sebagai tempat peristirahatan, yakni sekitar km 30. Terdapat sebuah danau yang oleh masyarakat disebut Situ Wanayasa.

Suasana sekitar danau itu sejuk dan tenang, layak sebagai tempat istirahat sekedar melemaskan otot. Hanya saja, itu hanya bisa dilakukan pada perjalanan siang hari. Kalau malam, tentu kurang layak karena gelap kendatipun ada di tengah pemukiman.

Hanya sayang, di sekitar danau tidak dijumpai areal parkir memadai. Karena itu, bila istirahat, carilah tempat parkir yang tidak mengganggu kendaraan pemudik lain, apalagi jalan di sekitar danau, ada kerusakan yang kalau hujan penuh kubangan.

Tak jauh dari danau, sekitar 1 km sampailah di pertigaan terminal Wanayasa. Di pertigaan, pengemudi belok ke kanan menuju arah perbatasan Purwakarta-Subang sekitar 8 km.

Di sepanjang jalur alternatif Wanayasa-Jalan Cagak, ditemukan juga tempat rawan longsor. Karena jalurnya diperbukitan, bila hujan, pengemudi harus ekstra hati-hati, supaya tidak tergelincir dan mengalami kecelakaan.

Salah satu daerah rawan longsor di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, masuk Kabupaten Subang. Di salah satu tanjakan lepas jembatan perbatasan Wanayasa (Purwakarta)-Sagalaherang (Subang), ada lokasi bekas tanah longsor. Namun sekarang sedang dalam perbaikan berupa pembangunan tembok penahan tanah (TPT).

Di wilayah Subang, kondisinya lebih bagus daripada di Purwakarta. Apalagi 15 km sebelum sampai pertigaan Jalan Cagak, jalan sudah mulus lengkap dengan hot-mix. Teruslah dengan kecepatan normal, 1/4 jam kemudian, sampailah di Jalan Cagak.

Dari Jalan Cagak, karena sudah memasuki jalur utama tengah, pemudik tinggal pilih sesuai jurusan. Kalau ke Bandung tinggal belok kanan menyusuri panorama indah perkebunan karet sepanjang lokawisata Ciater-Tangkuban Perahu-Lembang. Tempat peristirahatan banyak didapati termasuk bila ingin membawa oleh-oleh buah-buahan nanas Subang atau sayur-sayuran Lembang.

Kemudian bagi pemudik jurusan Sumedang atau Cirebon, bisa belok kiri mengambil jalur alternatif Subang-Sumedang. Atau yang tidak ingin melewati kota Sumedang, bisa ke arah Pegaden dulu, nanti menuju jalur Bantarwaru-Cikamurang-Indramayu.

https://i1.wp.com/www.sman13bdg.sch.id/userfiles/crhcjb57.jpg
JARAK:
Jakarta, ID 106.8294
-6.1744
Wanayasa, ID 107.5556
-6.6825
Miles: 60.93
Kilometers: 98.05
Wanayasa, ID 107.5556
-6.6825
Jalancagak, ID 107.6833
-6.6833
Miles: 8.76
Kilometers: 14.10
Jalancagak, ID 107.6833
-6.6833
Cimalaka, ID 107.9461
-6.8119
Miles: 20.09
Kilometers: 32.33
Cimalaka, ID 107.9461
-6.8119
Majalengka, ID 108.2167
-6.8333
Miles: 18.61
Kilometers: 29.94
Majalengka, ID 108.2167
-6.8333
Cikijing, ID 108.3667
-7.0167
Miles: 16.31
Kilometers: 26.24
Cikijing, ID 108.3667
-7.0167
Ciamis, ID 108.3500
-7.3333
Miles: 21.89
Kilometers: 35.23
Ciamis, ID 108.3500
-7.3333
Banjar, ID 108.5333
-7.3667
Miles: 12.76
Kilometers: 20.54
Banjar, ID 108.5333
-7.3667
Pangandaran, ID 108.6500
-7.6833
Miles: 23.28
Kilometers: 37.46
Banjar, ID 108.5333
-7.3667
Banyumas, ID 109.2833
-7.5167
Miles: 52.38
Kilometers: 84.30
Banyumas, ID 109.2833
-7.5167
Wonosobo, ID 109.9000
-7.3667
Miles: 43.47
Kilometers: 69.96
Wonosobo, ID 109.9000
-7.3667
Salatiga, ID 110.5078
-7.3214
Miles: 41.74
Kilometers: 67.17
Salatiga, ID 110.5078
-7.3214
Surakarta, ID 110.8333
-7.5833
Miles: 28.70
Kilometers: 46.19
TOTAL JARAK
Jakarta – Surakarta (via Salatiga-Temanggung-Banyumas-Wangon-Ciamis-Cikijing-Cimalaka-Jalan Cagak-Wanayasa-Tol Cipularang-Tol Cikampek-Jakarta:494.11 KM

… sementara catatan lain: Jakarta – Solo = 477 km.
JAKARTA – PANGANDARAN: 283.89 KM
PANGANDARAN – WONOSOBO (Dieng): 191.72 KM

Jakarta – Surakarta (via Salatiga-Temanggung-Banyumas-Wangon-Ciamis-Cikijing-Cimalaka-Jalan Cagak-Wanayasa-Tol Cipularang-Tol Cikampek-Jakarta:494.11 KM

… sementara catatan lain: Jakarta – Solo = 477 km.
JAKARTA – PANGANDARAN: 283.89 KM
PANGANDARAN – WONOSOBO (Dieng): 191.72 KM

MINGGU, 05 AGUSTUS 2012 | 12:47 WIB
Cobalah Jalur Alternatif yang Lebar dan Mulus Ini

TEMPO.CO, Purwakarta – Buat pemudik asal Jakarta dan sekitarnya dengan tujuan Cirebon-Jawa Tengah dan Priangan Timur, ada jalur alternatif yang bisa Anda coba untuk menghindari macetnya jalur pantai utara (Pantura) Jawa.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Purwakarta, Ajun Komisaris Agus Wahyudin, mengatakan pemudik dapat mengambil jalur alternatif Ciganea-Purwakarta-Wanayasa-Jalan Jagak-Sumedang.

“Jalannya lebar dan mulus, kami jamin pemudik betah selama di perjalanan,” kata Agus di kantornya, Minggu, 5 Agustus 2012.

Menurut dia, jalur ini relatif lancar ketimbang jalur utama Pantura Karawang-Subang-Indramayu. Selain kondisi jalan yang lebar dan mulus, pemandangan di sepanjang jalan juga hampir sama seperti jalur Puncak Bogor-Cianjur.

Rute yang dapat dilalui untuk melintasi jalur alternatif ini, kata Agus, begitu keluar Jakarta, pemudik jangan keluar dari gerbang tol Cikopo. Mereka diminta masuk ke ruang Tol Cipularang di kilometer 86 lalu keluar melalui gerbang tol Jatiluhur/Ciganea.

Selepas pintu gerbang itu, kendaraan langsung diarahkan menuju ruas Purwakarta-Pasawahan-Wanayasa-Jalan Cagak dan lurus saja. “Jangan mengambil jalur kanan arah Ciater-Bandung,” katanya.

Saat berada di pertigaan Jalan Cagak, kendaraan dibelokan ke arah Kasomalang-Cisalak. Selepas Cisalak terus menuju Sumedang. Dari kota tahu itu, anda bisa menggunakan jalur selatan Malangbong-Tasik-Ciamis-Cilacap, tanpa harus melalui ruas Nagreg yang rawan kemacetan.

Agus menambahkan, dari Sumedang pemudik juga bisa masuk ke arah Cikijing-Majelengka-Tomo langsung menuju pintu gerbang Palimanan, Cirebon.

Berdasarkan pemantauan Tempo, Ahad pagi hingga siang ini, 5 Agustus 2012, jalur alternatif di atas, terutama di antara ruas Purwakarta-Wanayasa hingga tapal batas Subang, kondisinya sangat mulus.

Jalan agak berlubang memang ditemukan di ruas Serangpanjang, Subang. Tetapi, sedang dalam perbaikan dan dipastikan sudah selesai dikerjakan pada saat puncak arus mudik.

Kondisi alam pegunungan, cuaca yang teduh, dan warung penjaja kuliner modern, tradisional hingga makanan oleh-oleh khas pegunungan yang bertebaran, akan memanjakan para pemudik jika menyusuri jalur ini.

Kendati jarak tempuhnya memang lebih jauh dari jalur Pantura, Agus mengatakan, jalur alternatif ini jauh dari jebakan kemacetan. “Pemudik harus jeli dalam memilih jalur,” ujarnya.

Kusdinar, warga Kasomalang, Subang, yang saban hari bolak-balik rute Jalan Cagak-Kasomalang-Sumedang mengatakan kondisi jalur alternatif ini layak dilalui para pemudik. “Kondisi jalannya mulus dan nyaman untuk dilalui kendaraan,” katanya.

Suasana jalannya, lanjut Kusdinar, juga sudah ramai dan lampu penerangan jalan sudah memadai jika dilintasi kendaraan pada malam hari.

Jarak jalur alternatif Purwakarta-Wanayasa-Serang Panjang, perbatasan Purwakarta-Subang, sejauh 30 kilometer. Adapun jalur Serang Panjang-Sagalaherang-Jalan Cagak sekitar 15 kilometer. Ruas Jalan Cagak-Cisalak sepanjang 17 kilometer dan Cisalak-Sumedang sejauh 25 kilometer. Jika lancar, waktu tempuhnya diperkirakan hanya tiga jam.

NANANG SUTISNA
15 Agustus 2012 | 18:50 wib
Jalur Tengah Tersendat di Pagojengan

PADAT: Arus kendaraan pemudik di jalur Tegal-Purwokerto antara Pagojengan-Kretek Kecamatan Paguyangan, Brebes pada H-4 Lebaran Rabu (15/8) pukul 12.00, terpantau padat. (suaramerdeka.com/ Teguh Inpras)
BREBES, suaramerdeka.com – Memasuki H-4 Lebaran, Rabu (15/8), ribuan kendaraan pemudik mulai memadati jalur Tegal Purwokerto. Namun, laju kendaraan yang didominasi mobil pribadi dan sepeda motor itu harus tersendat di sejumlah titik.
Berdasarkan pantauan suaramerdeka.com pukul 11.00 WIB, ketersendatan lalu lintas (lalin) terjadi antara lain di perlintasan KA Karangsawah Tonjong, Pasar Linggapura. Sementara di Ciregol relatif lancar.
Adapun tingkat kepadatan lalin di jalur tengah Jateng ini terjadi di sepanjang Pagojengan-Kretek wilayah Kecamatan Tonjong, Brebes. Hal ini disebabkan oleh aktivitas buka tutup perlintasan KA dan pedagang di pasar Kretek.
Arus lalin menumpuk sepanjang jalur tersebut. Sikap egois sejumlah pengendara yang berusaha menerabas antrean memperparah keadaan.
Kapolres Brebes AKBP Kif Aminanto melalui Kapolsek Bumiayu AKP Sukoyo SH menyatakan pada H-4 Lebaran terjadi lonjakan kendaraan yang cukup berarti dibandingkan hari sebelumnya. “Lalu lintas padat tapi lancar,” katanya.
Rruas Pagojengan-Kretek merupakan titik paling krusial dalam pengamanan arus mudik dan balik Lebaran di jalur Tegal-Purwokerto. Menurutnya, antrean kendaraan sulit dihindari mengingat kondisi jalan sempit dan menanjak.
Belum lagi aktivitas pasar dan buka tutup perlintasan KA yang intensitasnya semakin meningkat. “Dengan volume kendaraan yang semakin meningkat, antrean kendaraan sulit untuk dihindari,” katanya.
Untuk pengamanan arus lalu lintas, didirikan Pos Pengaman Lebaran di Pintu Selatan Jalan Lingkar/terminal lama Pagojengan. Lokasi itu merupakan pertemuan kendaraan dari arah kota dan jalan lingkar Bumiayu. “Petugas bergerak mobile jika sewaktu-waktu terjadi kepadatan kendaraan,” katanya.
( Teguh Inpras Tribowo / CN33 / JBSM )

Posted in jalan-jalan dan kulineran | 4 Comments

PETA kasar jalan ke CURUG Cimahi, Lembang, Bandung

LEWAT TOL CIKOPO-PALIMANAN (EXIT / KELUAR DI TOLL EXIT : SUBANG): liat papan petunjuk arah : Subang, Lembangpeta tol cipali subang lembang

PER TAON 2013, ada kawasan wisata baru: DUSUN BAMBU, dekat banget CURUG CIMAHI, kawasan wisata berbayar yang dilengkapi PEMANDANGAN INDAH: taman, danau, pepohonan, n FOOD COURT n resto enak

peta tol cipali subang EXIT_kota peta subang LEMBANG peta subang LEMBANG kota peta subang LEMBANG k CURUG CIMAHI

LEWAT BANDUNG N LEMBANG:


rute dari tol pasteur: sukajadi-setiabudi-sersan bajuri atau kolonel masturi-CURUG CIMAHI (masih ada alternatif laen, tolong cari sendiri ya :) )

Posted in koleksi foto wisata, peta ke daerah tujuan wisata | Leave a comment

naek SEPEDA ke NY, yuk … (jalan2 mandiri di negeri sodara tuwa)

.LOVEmeLIKEyouDO sing by Ellie Goulding idem… lagu yang HIT saat gw jalan2 di negeri MATAHARI TERBIT (rising sun) tempat para GEISHA mencari nafkah (de facto) … berikut beberapa tips yang fundamental bwat TRAVELER yang INDEPENDEN di negeri SAKURA ini : 1. buat lah rencana: pra-saat-pasca: 1.a. pra PERJALANAN: paspor, visa, dana (ancar2 total sekira (maksimum) Rp 20 juta (maseh bisa ditekan s/d Rp 15 Juta,  dah termasuk oleh-oleh) (per Juli 2015), 10 hari JALAN2, 4-5 kota tujuan dari BARAT (Osaka) ke TIMUR (Tokyo), bulan jalan2 (April bwat liat bunga sakura; Musim Dingin bwat liat Gunung Fuji, Musim Gugur: bwat liat variasi warna dedaunan yang indah), Japan Rail Pass 7 hari wajib beli di Indonesia (berlaku hanya untuk Orang Asing bukan warga negara tersebut; usul gw: ke JALAN TOUR di Wisma KEIAI Sudirman Jakarta, banyak info n beli harga standar JRP) (dipakai untuk terutama transportasi antar kota; di Tokyo sebagian perjalanan juga bisa dipake, naek SHINKANSEN / kereta api supercepat), bisa jalan sendirian atawa bareng teman / pasangan/ keluarga (usul gw: 3 orang cukup lah), sedikit-dikit cari APPS (terutama HYPERDIA) untuk info internet perjalanan kereta api, sedikit-dikit baca info bahasa negara tersebut soal toilet, nama kota, urus ijin masuk Imperial Palace Tokyo guna bisa TUR DALAM LINGKUNGAN ISTANA (kompleks aza) dll … 1.b. SAAT PERJALANAN (biaya per orang): kompak, fokus pada kelanjutan perjalanan, antisipasi kejutan penuh kesenangan sepanjang perjalanan, makan setiap kali berkisar Rp 50K – Rp 100K, biaya inap sekira Rp 250K – Rp 300K, biaya masuk tempat wisata budaya maksimum Rp 60K (banyak yang gratis), … Tur Terbimbing (guided tour) di Istana Kaisar (Tokyo Imperial Palace) mesti BOOKING lewat Internet ….(LANJUTAN ditunggu ya)

November 7, 2011 Pleasures of Life in the Slow Lane By MICHAEL KIMMELMAN New Yorkers should love bicycling. We’re control freaks. We want to get from here to there in a New York minute and moan about the subways and the buses, about lunatic taxi drivers and the gridlock that slows us down. The other day I jumped on my bicycle and rode downtown to meet Janette Sadik-Khan, transportation commissioner for New York City. She is the driving force behind the city’s new bike lanes and now also a piñata for their vocal opponents. I started out along the Hudson, then headed east at 40th Street, past that nowhere stretch of depots that muscles its way toward the chaos of the Port Authority Bus Terminal. The waterfront is bucolic and almost Zen-like without a million other bikes around, but I’ve also come to love those gruff, empty, brooding blocks on the far West Side, which I almost never bother to walk. River gives way to industry then density, silence to the din of Midtown — a classic New York transition, an urban glory best absorbed, I have come to realize, from a bike. It’s too bad that so many New Yorkers still complain about the bike lanes’ contribution to the inconvenience of urban driving instead of promoting them for their obvious role in helping solve the city’s transportation miseries, and for their aesthetic possibilities. I don’t mean they’re great to look at. I mean that for users they offer a different way of taking in the city, its streets and architecture, the fine-grained fabric of its neighborhoods. Decades ago the architects Robert Venturi and Denise Scott Brown wrote about how we see cities differently at different speeds. Las Vegas was their example, and they wrote about driving versus walking (skipping over the bicycle). But the point stands. On a bike time bends. Space expands and contracts. I’ve had plenty of accidents over the years and know that it may sound a little crazy to talk about meditating on urban scenery when the issue is crashing into double-parked cars, abruptly opened taxi doors and reckless riders, which is where properly designed and enforced bike lanes come in, or increasingly will, as their network grows. So far the city has installed some 260 miles of lanes during the last four years, “hard miles,” Ms. Sadik-Khan puts it, meaning lanes in the densest, most contested parts of town, the ambition being to link these better and set up a bike-sharing system before Mayor Michael R. Bloomberg’s term expires in two years. At the moment the lanes are disjointed, often badly marked and hardly policed, provoking antipathy and occasional chaos in the streets. Consolidating them will require a consistent, identifiable design vocabulary, a permanent architecture. This has to include more dedicated lanes, separated from automobile traffic by medians and parked cars, a feature that improves safety — as it already has along Ninth Avenue, for instance — and getting riders, drivers and pedestrians to follow the rules of the road. Cultural shifts like that take time. Bike riders especially need to follow those rules. European cities have had decades to develop cycling cultures. The Dutch and the Danes are said to be among the happiest people on earth, which I can’t help but imagine must have something to do with their bike culture. You find bicycle clubs for the elderly there, clusters of teenage boys with girls perched on the backs of their bikes, commuters chatting along the bike paths, which provide a natural mix of intimacy and distance. On a bike, the city shrinks. I know how this happens from living in Berlin the past few years. I came to love to run errands there on my bike, to take my younger son to the aquarium and just to find excuses to ride through Treptow Park to watch old Berliners dance with hipsters on the riverside veranda of an ancient beer garden. New York is not Berlin or Amsterdam, but London has lately turned into a bike capital too, in conjunction with a traffic-congestion fee program for drivers of the sort that New York was wrong to reject recently. It’s now common around Sloane Square and Piccadilly Circus to find parents with children and businessmen and businesswomen commuting on bicycles. Safety in numbers, Londoners have discovered: a city reaches a tipping point when biking achieves what Ms. Sadik-Khan describes as an everyday “architecture of safety.” I looked at my watch when I arrived at 23rd Street and Ninth Avenue, where the transportation commissioner, a keen bicycler, had agreed to meet me. Including a 15-minute stop along the way, I had traveled some 4 miles in 40 minutes, or at a pace of more than 9 miles an hour. City buses average roughly 8 miles an hour, taxis, 9, during midday at this time of year. Making New York bike friendlier is of course a no-brainer for the obvious health and environmental reasons and also because cycling can be the swiftest way to get around. But it’s about civic diversity as well. A half-century ago the argument to run highways through the city sounded more than a little like the case now being made against bike lanes. Critics now say that bike lanes will hurt commerce and increase car traffic congestion. Back then, it was said, cars were the path to prosperity and more rational streets. “What is now little more than a fume-filled traffic corridor will become a true neighborhood,” a deputy to Robert Moses, New York’s master builder during much of the last century, prophesied if the huge, multilane Lower Manhattan Expressway that Moses proposed were allowed to demolish much of what is today SoHo and the West Village. The city’s very economic survival depended on accommodating automobiles and the destruction of those then-diverse areas, Moses warned. The radical-sounding rebuttal by the urban theorist and writer Jane Jacobs was that new highways only create more traffic as cars multiply to meet increased capacity. Traffic engineers today call it “induced demand.” The opposite also applies. Closing streets to cars cuts traffic, as Times Square has proved. Conversely, installing more bike lanes increases the number of riders. Ms. Sadik-Khan led the way on her sturdy bike, steering us from 23rd Street down Ninth Avenue using one of the new protected bike lanes. We rode across town on Bleecker Street to the Lower East Side, cycled over the Williamsburg Bridge, then around the Brooklyn waterfront, where, on banners, new apartment towers were advertising their adjacencies to the bike lanes. Passing the Russian Orthodox Cathedral and the Brooklyn Brewery, we stopped at a coffee shop near Bedford Avenue and North Fifth Street, where the sidewalk had been widened to make room for crowded bike corrals. The whole trip — about seven miles, traversed at a leisurely pace, obeying traffic signals and stopping occasionally to talk — took less than an hour. In that time an endless panorama became digestible. From Chelsea to the bird’s-eye view atop the bridge and back down to street level at the Domino Sugar Factory, New York unspooled as a series of surprises. Great cities offer up as one of their distinguishing virtues this combination of serendipity and complexity. I left Ms. Sadik-Khan in Brooklyn and snagged the ferry back to Manhattan. Rush-hour traffic clogged the bike lane on First Avenue. More crosstown madness left me cursing the downsides of cycling by the time I reached Central Park. But then I found myself cruising past Bethesda Fountain in the fading sunlight. Aesthetics aside, the bike lanes are about urban livability and about encouraging the sort of street culture that, as Jacobs reminded us, a healthy and democratic city depends on. The Central Park Lake was an echo of the Hudson at the start of the day, bringing the trip full cycle. This was the only way to travel

Posted in jalan-jalan dan kulineran | Leave a comment

peta jalan kasar k GUHA PAWON, Padalarang N TAMAN BATU Pasir Pawon

peta jalan kasar k goa pawon tol cipularang mei 2015 peta jalan kasar k goa pawon tol cipularang mei 2015b peta jalan kasar k goa pawon tol cipularang mei 2015c peta jalan kasar k goa pawon tol cipularang mei 2015dfoto-foto dari situs Guha Pawon:

IMG_6312 IMG_6271 IMG_6378

Posted in peta ke daerah tujuan wisata | Leave a comment

peta jalan KASAR ke KAWAH PUTIH, ciwidey, Bandung: 080813_240515 (update k Situ Patenggang)

… selamat berketupatria, selamat bersilatuhrahim … ENJOY YOUR DAY @ KAWAH PUTIH … saran gw: IKUTI PETUNJUK JALAN KE CIWEDEY n KAWAH PUTIH … semoga menyenangkan ya :
lokasi kawah putih ciwedey

lokasi kawah putih ciwedey 02

lokasi kawah putih ciwedey 02B

lokasi kawah putih ciwedey 03

lokasi kawah putih ciwedey 03B

lokasi kawah putih ciwedey 03C

lokasi kawah putih ciwedey 03C

lokasi kawah putih ciwedey 03D

lokasi kawah putih ciwedey 03E

lokasi kawah putih ciwedey 03E

lokasi kawah putih ciwedey 03F

lokasi kawah putih ciwedey 03G

lokasi kawah putih ciwedey 03H

lokasi kawah putih ciwedey 03I

lokasi kawah putih ciwedey 04

lokasi kawah putih ciwedey 04

lokasi kawah putih ciwedey 04B

lokasi kawah putih ciwedey 05

lokasi kawah putih ciwedey 05B

lokasi kawah putih ciwedey 06

lokasi kawah putih ciwedey 06

lokasi kawah putih ciwedey 07

lokasi kawah putih ciwedey 08
MASUK KAWAH PUTIH blogrute tol kopo k soreangmenuju ke Situ Patenggang dari KAWAH PUTIH:

peta jalan kawah putih_situ patenggang BANDUNG mei 2015 peta jalan kawah putih_situ patenggang BANDUNG exit kawah putih
LINK ke blog tentang Situ Patenggang, yang bagus

Posted in jalan-jalan dan kulineran | Tagged , , | Leave a comment

PETA JALAN kasar ke CURUG NANGKA

This gallery contains 16 photos.

lihat foto n slideshow foto AREA WISATA CURUG NANGKA peta jalan kasar dari bogor kota ke curug nangka, ciapus, sekira 60 menit lah … area Curug Nangka sebenarnya kawasan wisata yang menarik dengan beberapa obyek laen: Highland Resort Ciapus Bogor, … Continue reading

Gallery | Leave a comment